Sumatera

Gandeng ISMI Menkop Lirik IPTEK Jadi Sarana Pengembangan UKM
Agus | Rabu,16 Jun 2021 - 15:15:46 WIB | dibaca: 67 pembaca

Silaturahmi Silabis ISMI ke 12, di Banda Aceh secara daring, Rabu (16/6/2021)/foto Agus citypost

Banda Aceh, CityPost – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koperasi dan UKM saat ini terus mencari terobosan dalam menggeliatkan kembali perekonomian. Berbagai inovasi dan kreativitas hingga program digitalisasi terus disasar untuk bisa meningkatkan kualitas Koperasi dan UMKM.

Belum lama ini, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki melirik dunia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang juga dinilai bias menjadi peran dalam mengadaptasi pengembangan Koperasi dan UMKM ditengah situasi dan kondisi yang tidak menentu saat ini.

Teten memberikan apresiasi kepada pihak-pihak yang berkreatif melalui inovasi yang difungsikan untuk mengembangkan Koperasi dan UMKM melalui cara-cara luar biasa (Extraordinary).

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Kelompok Bisnis Ikatan Saudagar Muslim seluruh Indonesia (Silabis ISMI) yang berencana mengembangkan Koperasi dan UMKM melalui dunia IPTEK.

"Saya memberikan apresiasi kepada Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia atas terlaksananya kegiatan

Silaturahmi Bisnis ke-12 di Aceh dan penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Kementerian Koperasi dan UKM tentang Pengembangan Teknologi Inovasi dan Kewirausahaan Bagi Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah," ungkap Teten usai membuka silaturahmi Silabis ISMI ke 12, di Banda Aceh secara daring, Rabu (16/6/2021).

Acara Silabis ISMI ke 12 dihadiri pula oleh SesKemenkopUKM Arif Rahman Hakim, Ketua Umum ISMI Ilham Akbar Habibie, Staf Ahli MenkopUKM Luhur Pradjarto,  Walikota Banda Aceh Aminullah Usman, Bupati Aceh Barat Daya Akmal Ibrahim,  Ketua ISMI Provinsi Aceh Nurkholis, dan peserta Silabis dari Selindo.

Dalam sesi diskusi, SesKemenkopUKM Arif Rahman Hakim menegaskan pentingnya, sinergi antara pemerintah, ekspertis dan para pakar yang tergabung dalam ISMI untuk mengakselerasi pelaksanaan program pemberdayaan dan pengembangan koperasi dan UKM.

"Tahun ini, Kementerian Koperasi dan UKM menargetkan 2,5 juta sektor informal untuk bertransformasi ke formal. Melalui kemudahan perizinan, sertifikasi, standarisasi dan pemasaran diharapkan usaha mikro sebagai ekonomi subsisten yang menyerap kurang lebih  97% lapangan pekerjaan mampu bertahan dan tetap produktif," jelasnya.

Bukan hanya itu, Arif juga menegaskan pentingnya peran konsolidator, agregator dan enabler dalam upaya UMKM untuk mendorong peningkatan kontribusi ekspor ke level 15,2% di tahun ini. Hal itu dibutuhkan untuk memperluas pasar ekspor produk UKM unggulan yang saat ini mulai kembali menggeliat.

"Di 2021, kami menargetkan sebesar 3,55%. Tak kalah penting, di tahun 2021 mampu melahirkan 100 koperasi modern terutama koperasi di sektor pangan," ujar Arif.

Sementara itu, dalam memperluas pasar produk UMKM  dan Koperasi, kata Arif.  40% anggaran belanja kementerian dan lembaga harus dialokasikan untuk membeli produk UMKM dan koperasi itu sendiri. Oleh karenanya produk-produk UMKM harus berkualitas dan berkelanjutan sehingga dapat memenuhi pesanan-pesanan sebagaimana yang diharapkan pada belanja barang oleh Pemerintah.

"Tentu target-target besar ini tidak dapat dicapai tanpa kolaborasi dengan berbagai pihak. Pendampingan dan pemberdayaan berkelanjutan, riset-riset yang produktif,  serta peningkatan literasi dan pengetahuan Koperasi dan UMKM adalah sumbu kemajuan. Keberadaan pendamping maupun kurator sangat diperlukan untuk mendampingi para pelaku UKM dan koperasi dalam memproduksi barang-barangnya " Ungkap Arif.

Menurut Arif, salah satu implementasinya adalah dengan menjalin kerjasama bersama Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia, melalui program Teknologi dan Inovasi Kewirausahaan (TEKNOSA) bagi Koperasi dan UMKM, dan dengan jaringannya yang luas di harapkan mampu menjadikan Usaha Kecil Menengah naik kelas, dan melahirkan Koperasi Modern yang mampu berfungsi sebagai agregator bagi UMKM.

Senada dengan para pejabat Kemenkop UKM, Ketum ISMI lllham Akbar Habibie mengatakan struktur perekonomian Indonesia saat ini, kurang seimbang dan kurang adil, dimana terlalu banyak jumlah pengusaha UMKM yang mencapai minimal 95 persen dari seluruh sektor lapangan usaha.

"Saya melihat perlu ada keberpihakan,  perlu lebih banyak berjuang untuk pengusaha kecil yang khususnya Muslim, karena itulah ISMI didirikan," kata putra Presiden RI ke-4 B.J.Habibie itu.

Menurut Ilham Habibie, dalam perjalanannya membela pengusaha kecil, salah satu kelemahan UMKM adalah mereka tidak memiliki kemampuan yang cukup dalam  melakukan go inovasi.

"Yang dimaksud disini adalah produk yang unggul, yang memiliki nilai tambah atau value added. Bahan baku atau materi boleh sama namun yang satu ada nilai tambah, sehingga harganya lebih mahal. Memberikan nilai tambah ini kata kuncinya adalah teknologi, dengan masuknya teknologi inovasi, suatu produk bisa menjadi sesuatu yang canggih dan bernilai lebih mahal,” kata Ilham Habibie.

Ilham menegaskan, dua kombinasi yang diberinama Teknosan yakni kombinasi antara teknologi inovasi dan kewirausahaan, nantinya akan menjadi inti dari tujuan usaha yang dijalankan agar produk mereka bias berkesinambungan dan berkelanjutan. Atas dasar itulah memperkuat UMKM nantinya juga bias membuka dan meningkatkan lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

“Dengan latar belakang itu, ISMI berupaya melakukan kerjasama dengan berbagai stakeholder seperti KemenkopUKM maupun Perguruan Tinggi untuk memperkuat teknologi inovasi dan kewirausahaan di kalangan UMKM khususnya  yang tergabung dalam ISMI,” pungkas Ilham.

Diketahui sebelumnya, pertumbuhan UMKM di Banda Aceh telah banyak perkembangan yang signifikan. Hal itu disampaikan oleh Walikota Banda Aceh Aminullah Usman yang notabene merupakan Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Provinsi Aceh.

Usman mengatakan, Banda Aceh memiliki wilayah yang tidak terlalu luas dibanding kota lain di Provinsi Aceh. Dengan luas hanya 61 km dan penduduk 260 ribu jiwa, perekonomian Banda Aceh kebanyakan dari sektor perdagangan dan wisata. Sedangkan disektor perdagangan mayoritas pelakunya adalah UMKM.

"Pada 2017 jumlah UMKM di kota Banda Aceh baru 8.551, pada saat ini sudah tumbuh menjadi 15.500 unit atau naik 82 persen dalam rentang waktu empat tahun. Sebagai kota wisata, Banda Aceh juga memiliki banyak  destinasi wisata, seperti Masjid Raya Baiturahman yang pada 2018 meraih anugerah sebagai pesona wisata halal di Indonesia. Selain itu ada museum Tsunami yang juga mendapatkan  penghargaan sebagai pesona wisata unik se Indonesia. Untuk kulinernya, masakan Aceh sudah diakui sangat enak, demikian juga dengan kopinya yang sudah terkenal. Dan untuk lebih mempopulerkan kopi Aceh, kami berencana menggelar kontes kopi di Banda Aceh," ujar Usman. (Agus)

Berita Lainnya
.

Cegah Politik Uang Merajalela di Munaslub Golkar, Komite Etik Diminta Bekerja Maksimal
Singapura klarifikasi soal perjanjian ekstradisi dengan RI
Mau Menumpang Mobil Otonom Google?
Tandatangani Kontrak 2 Tahun, Vinales Resmi Bergabung dengan Yamaha
Gadis 16 Tahun Diperkosa 113 Pria, Termasuk Polisi, Selama 2 Tahun