Opini

Wisata Alam Indonesia Belum Sepenuhnya Dikelola Ecotourism
Penulis: Sunu Probo Baskoro (Dosen STAI Haji Agus Salim) | Kamis,27 Mei 2021 - 17:10:40 WIB | dibaca: 335 pembaca

Sunu Probo Baskoro (Dosen STAI Haji Agus Salim)/foto Dok Citypost

Pariwisata merupakan salah satu sector industry yang terganggu akibat pandemic covid-19. Menurut data, terjadi penurunan kunjungan wisata dari mancanegara hingga 75 persen. Pada 2019 terdapat kunjungan wisata mancanegara sebesar 16, 11 juta orang namun pada 2020 kunjungan wisatawan mencanegara hanya mencapai 4 juta wisatawan. Pada umumnya sector industry pariwisata golongan atas dan mewah yang mengalami gangguan akibat dari pandemic covid-19.

Hal sebaliknya terjadi pada sector industry pariwisata alam atau biasa dikenal dengan nature-based tourism. Data menyebutkan bahwa pada 2020, kuota masuk salah satu lokasi pariwisata alam yakni Gunung Semeru sudah penuh. Memang, pada saat pandemic covid-19 pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru membatasi kuota pendakian di Gunung Semeru hanya 120 orang perhari. 

Selain Gunung Semeru, terdapat pula gunung lainnya yang menjadi, tujuan lokasi pendakian yakni Gunung Prau di Jawa Tengah. Pada masa pandemic ini pun, Perum Perhutani KPH (Kesatuan Pemangkuan Hutan) Kedu Utara menerapkan pembatasan bagi para pendaki yang berminat mendaki Gunung Prau di Jawa Tengah. Pembatasan ini berbeda-beda tergantung jalur pendakian yang dipilih oleh pendaki. Pendakian gunung prau melalui jalur dieng dibatasi maksimal 250 orang pendaki, melalui jalur patak banteng dibatasi maksimal 600 orang pendaki, melalui jalur kalilembu maksimal 200 orang pendaki, melalui jalur dwarawati maksimal 100 orang pendaki, melalui jalur wates maksimal 250 orang pendaki dan melalui jalur igir manak maksimal 100 orang pendaki.

Melihat data diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa antusiasme pendaki untuk melakukan aktivitas pendakian saat pandemic covid-19 sangat tinggi khususnya di gunung-gunung pulau Jawa. Namun tingginya antusiasme pendaki ini menimbulkan pertanyaan apakah pengelola Kawasan nature-based tourism atau dengan kata lain pengelola Kawasan wisata alam itu sudah menerapkan prinsip-prinsip ecotourism. 

Mengacu definisi dari Ecotourism Society bahwasannya ecotourism didefinisikan sebagai perjalanan yang bertanggung jawab ke Kawasan alam yang melestarikan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk local. Jika mengacu pada definisi ini, masih banyak para pendaki di Indonesia yang tidak melakukan perjalanan atau pendakian dengan bertanggung jawab. Hal ini bisa dibuktikan dengan masih banyaknya para pendaki yang tidak membawa turun kembali sampah mereka dari puncak. Selain itu, masih banyak pendaki yang membawa tissue basah ketika mendaki dan membuang tisu basah itu di puncak-puncak gunung. 

Hal lain yang menunjukkan ketidakbertanggung jawaban pendaki-pendaki Indonesia saat mendaki adalah membawa radio atau alat music dan melantunkan lagu-lagu dengan volume keras sehingga mengganggu pendaki lainnya dan hewan-hewan liar. 

Jika mengacu pada buku ecotourism karya David Kennel, disebutkan bahwa Ecotourism adalah adalah bentuk pariwisata berbasis alam yang berkelanjutan dan non-invasif yang berfokus terutama pada pembelajaran tentang alam secara langsung, dan yang dikelola secara etis menjadi berdampak rendah, non-konsumtif, dan berorientasi lokal (kontrol, manfaat, dan skala). Jika mengacu pada teori diatas maka kita dapati pengelolaan wisata alam belum ecotourism.

Salah satunya adalah pengelolaan wisata alam di Gunung Papandayan, dimana pengelola menyediakan jasa angkut orang dengan moda kendaraan roda dua atau biasa disebut ojek. Jasa angkut ojek ini dilegalkan oleh pengelola hingga para pendaki memilih untuk naik ojek hingga Pos tiga atau daerah kawah. Dengan adanya jasa ojek ini menjadikan polusi udara di Kawasan wisata alam gunung papandayan.

Dalam bukunya David Kennel juga menyebutkan salah satu ciri ecotourism adalah bentuk pariwisata alam yang berkelanjutan dan non-invasif. Menilik definisi itu dan kita sandingkan dengan data pendaki gunung semeru yang dibuka setiap hari 120 orang maka pengelola gunung semeru memperbolehkan pendakian secara massif. Data yang lebih mencengangkan kita dapati dari jumlah pendaki di gunung Prau, sebanyak 1500 orang setiap hari melakukan pendakian. Pengelola seharusnya memperkirakan daya lenting dari Kawasan wisata alam itu.

Bottrill dan Pearce menyatakan lima klasifikasi ecotourism yakni motivasi (aktifitas fisik, pendidikan, partisipasi), sensitive management dan menjaga status area. Hal sering terjadi di Kawasan wisata alam Indonesia adalah kurangnya pendidikan atau pengarahan dari pihak pengelola Kawasan kepada para pengunjung dan pendaki. Umumnya para pengunjung dan pendaki hanya membayar tiket di loket kemudian dipersilahkan masuk menuju jalur pendakian tanpa diberi arahan terkait Kawasan wisata alam yang dikunjungi.

Selanjutnya diharapkan kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Propinsi mampu menerapkan pengelolaan Kawasan wisata alam atau nature-based tourism berbasiskan ecotourism. Hal ini penting dilakukan guna keberlanjutan Kawasan wisata alam di Indonesia. Hal pertama yang dapat dilakukan oleh dinas-dinas kehutanan dan lingkungan hidup adalah memberi pembekalan kepada para pengelola Kawasan wisata alam dengan menerapkan ecotourism.

Berita Lainnya
.

Agus Gumiwang Menjabat Mensos Gantikan Idrus Marham
Pertamina Jelaskan Soal Kelangkaan Elpiji Bersubsidi
PLN Lampung Terpaksa Lakukan Pemadaman Bergilir
TN Komodo Siapkan Tiket Wisata Berbasis Aplikasi Daring
Dishub Alihkan Lalu Lintas Saat Marathon Asian Games